
SEJARAH BERDIRI
1. Keberadaan Desa Glagahwero Kalisat pada Era Penjajahan Jepang Desa Glagahwero, Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember, pada masa penjajahan Jepang (1942–1945) merupakan wilayah pedesaan yang masih sangat sederhana. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dan buruh perkebunan, dengan kondisi sosial-keagamaan yang relatif minim sentuhan pendidikan Islam formal. Praktik keagamaan masih bercampur dengan tradisi lokal yang belum sepenuhnya berlandaskan pemahaman syariat. Pada masa itu, tekanan ekonomi, kerja paksa (romusha), dan situasi politik yang tidak menentu membuat kehidupan masyarakat berada dalam kondisi serba sulit. Lembaga pendidikan Islam belum berkembang, sementara kebutuhan akan bimbingan keagamaan dan pembinaan akhlak sangat besar. Dalam konteks inilah, kehadiran seorang ulama pesantren kelak menjadi titik balik bagi kehidupan keagamaan masyarakat Glagahwero. 2. Kedatangan Kyai Musikan dari Madura ke Kalisat Menjelang Perang Dunia II, seorang santri pengembara asal Madura bernama Kyai Musikan hijrah ke Glagahwero Kalisat. Beliau berasal dari Desa Bragung, Guluk-guluk, Sumenep, Madura, putra dari Kyai Abdul Hamid (Kyai Judhi) dan Nyai Mulani (Nyai Judhi). Hijrah ini dilakukan untuk mengikuti pamannya, Kyai Basyiran (Kyai Si’a), yang lebih dahulu menetap di Kalisat. Kyai Musikan merupakan sosok santri tulen yang telah menempuh pengembaraan keilmuan panjang di berbagai pesantren besar Madura dan Jawa, di antaranya Pesantren Banyuajuh, Banyuanyar, Bata-Bata, Guluk-guluk, hingga Tattanguh Sampang dan Paterongan Jombang. Bekal ilmu fiqh, ushul fiqh, tasawuf, dan thariqah menjadikan beliau figur ulama yang matang secara keilmuan dan spiritual. Setibanya di Glagahwero, Kyai Musikan menikah dengan Nyai Nafisah binti Zainuddin. Beliau tidak langsung mendirikan pesantren, melainkan memulai perjuangan dari bawah, dengan pendekatan kultural dan keagamaan yang membumi. 3. Awal Mula Berdirinya Pondok Pesantren Langkah awal Kyai Musikan di Glagahwero adalah mengajarkan Al-Qur’an, membimbing shalat, dan memperbaiki praktik ibadah masyarakat. Kegiatan ini dilakukan secara sederhana di rumah beliau dan dari langgar ke langgar. Pendekatan beliau yang tegas namun penuh kasih membuat masyarakat perlahan menerima kehadiran beliau sebagai rujukan agama. Di sela-sela pengabdiannya, Kyai Musikan masih menyempatkan diri tabarrukan sebagai santri kalong di Pondok Pesantren Sumberwringin kepada Kyai Syukri, sebagai bentuk tawadhu’ dan kontinuitas sanad keilmuan. Titik penting berdirinya pesantren terjadi ketika Kyai Musikan menerima wakaf tanah bekas pemandian umum peninggalan Belanda dari paman sepupunya, Haji Idris. Tanah wakaf inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Miftahul Ulum Glagahwero Kalisat, yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan “Pondhuk Taman”. Pada tahap awal, pesantren berdiri sangat sederhana: berupa langgar, rumah kyai, dan beberapa bilik santri. Namun, dari tempat inilah cahaya ilmu dan dakwah Islam mulai menyinari Glagahwero dan sekitarnya. 4. Periode Kepemimpinan Kyai Musikan hingga Wafat a. Masa Perjuangan Fisik dan Revolusi Kemerdekaan Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Kyai Musikan terlibat langsung dalam barisan Sabilillah di bawah komando KH. As’ad Syamsul Arifin. Beliau bergerilya di berbagai wilayah Jember dan sekitarnya, mengandalkan ilmu hizib dan amalan pesantren Nusantara, bukan strategi militer modern. Meskipun aktif berjuang, Kyai Musikan menolak didaftarkan sebagai veteran perang. Baginya, perjuangan adalah ibadah, bukan sarana mencari penghargaan duniawi. b. Konsolidasi Pesantren dan NU Pasca-kemerdekaan, Kyai Musikan kembali fokus membangun pesantren dan masyarakat. Bersama para ulama NU lainnya, beliau berperan besar mengubah wajah Kalisat dari masyarakat yang jauh dari nilai-nilai Islam menjadi masyarakat santri. Di bidang organisasi, Kyai Musikan aktif di Nahdlatul Ulama’, menggerakkan pendidikan, sosial, budaya, dan politik umat. Pada Pemilu 1955, beliau menjadi motor penggerak kemenangan Partai NU di Kalisat. Melalui seni hadrah, macopat, kentrung, dan pencak silat, beliau menjadikan budaya sebagai sarana dakwah dan konsolidasi umat. c. Masa Konflik Politik dan Keteguhan Prinsip Pada masa 1965 dan era Orde Baru, Kyai Musikan menghadapi tekanan berat. Beliau pernah diracun oleh PKI, dipenjara oleh rezim Orde Baru karena mendukung PPP, namun tetap teguh menjaga prinsip ulama dan NU. Bahkan setelah peristiwa Gestapu, beliau justru melindungi masyarakat awam yang terancam menjadi korban kekerasan. d. Masa Akhir Pengabdian Pada tahun 1979–1984, Kyai Musikan dipercaya sebagai Rais Syuriah PCNU Jember. Meski sempat menaruh kekhawatiran terhadap kebijakan asas tunggal Pancasila, beliau akhirnya menerima keputusan Munas NU 1983 dengan lapang dada demi kemaslahatan umat dan keutuhan NU. Pada awal tahun 1984, KH. Baihaqi (Kyai Musikan) wafat. Wasiat terakhir beliau kepada keluarga dan santri sangat sederhana namun sarat makna: “Engko’ matoro’ah NU… NU… NU…” (Saya titipkan NU… NU… NU…) Penutup Pondok Pesantren Miftahul Ulum Glagahwero Kalisat berdiri bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai monumen perjuangan iman, ilmu, dan pengabdian umat. Pesantren ini lahir dari keikhlasan seorang ulama pesantren Nusantara, tumbuh bersama denyut perjuangan bangsa, dan hingga kini terus melanjutkan cita-cita mencetak santri yang beriman, berilmu, dan beramal untuk umat dan Nahdlatul Ulama’.
